|
Jabir Ibnu Abdullah Al-Anshari |
|
Written by Redaksi2
|
|
Jum'at, 05 September 2008 23:21 |
R ombongan kendaraan melaju mempercepat langkah dari Yatsrib ke Mekah karena didorong oleh rasa kerinduan kepada seseorang yang dicintai. Mereka sudah berjanji kepada Rasulullah untuk bertemu. Setiap orang yang berada di rombongan itu sangat rindu dengan suatu waktu pada saat akan merasakan kebahagiaan bertemu dengan Nabi Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wasallam dan meletakkan tangan di atas tangan beliau dengan membaiatnya untuk selalu mendengarkan perintahnya dan taat, serta berjanji untuk saling menguatkan dan menolong. Di antara rombongan itu, ada orang tua, salah seorang pemuka kaum, membonceng anak laki-laki satu-satunya yang masih kecil di belakangnya. Ia meninggalkan sembilan anak perempuan di Yatsrib karena ia tidak memiliki anak laki-laki yang kecil selainnya. Orang tua itu sangat ingin anaknya bisa menyaksikan baiat dan tidak kehilangan hari agung yang dianugerahkan itu. Orang tua itu bernama Abdullah ibnu Amr al-Khazraji al-Anshari. Anaknya bernama Jabir ibnu Abdullah al-Anshari.
Keimanan bersinar di hati Jabir ibnu Abdullah, sedangkan ia masih kecil dan segar. Keimanan pun menyinari setiap sendinya. Islam menyentuh jiwanya yang halus seperti tetesan-tetesan hujan menyentuh kelopak bunga. Tetesan-tetesan itu pun membukanya dan memenuhinya dengan semerbak wangi-wangian. Hubungan Jabir dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjadi kuat sejak mudanya.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia datang berhijrah ke Madinah, anak kecil yang mukmin ini berguru kepada Nabi pembawa petunjuk dan rahmat. Ia pun menjadi sebagian orang utama yang diluluskan oleh pendidikan Muhammad menjadi penghafal Kitab Allah untuk kepentingan manusia dan menjadi periwayat hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.. Cukuplah kita mengetahui bahwa Musnad Jabir ibnu Abdullah terkumpul di antara kedua sisinya sebanyak 1.540 hadits. Dihafallah semua hadits itu oleh seorang murid yang pandai dan meriwayatkannya dari Nabi kaum muslimin yang agung. Imam Bukhari dan Imam Muslim menetapkan dalam dua kitab shahihnya lebih dari 200 hadits dari hadits-haditsnya. Ia menjadi sumber penyiaran dan petunjuk bagi kaum muslimin sepanjang waktu. Allah pun memanjangkan kehidupannya sehingga umurnya sampai satu abad.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca Selengkapnya...
|
|
|
‘Uqbah bin Amir al-Juhani |
|
Written by Redaksi2
|
|
Senin, 28 Juli 2008 07:53 |
R asulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam baru saja sampai di pinggiran kota Yatsrib setelah sekian lama dinanti-nanti. Kaum lelaki di kota Madinah memadati jalan dengan mengumandangkan tahlil (laa ilaaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar) dengan riang gembira menyambut kedatangan Nabi pembawa kasih sayang dan sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiiq. Sementara itu, kaum wanita dan anak-anak kecil naik ke atap rumah agar dapat melihat langsung sosok Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sambil bertanya-tanya, "Yang mana dia? .. Yang mana dia?" Rombongan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berjalan di tengah para penyambutnya dengan penuh wibawa. Mereka dikelilingi wajah-wajah yang telah lama merindukannya dan hati yang telah sekian lama mendambakannya. Mereka tak kuasa mencucurkan air mata bahagia dan menabur senyum kegembiraan.
Tapi, 'Uqbah bin 'Amir al-Juhani tidak menyaksikan rombongan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan tidak bergabung dengan orang-orang yang menyambut kedatangannya. Ini karena sebelumnya ia sudah pergi menuju daerah pedalaman untuk menggembalakan kambing-kambingnya, karena khawatir seluruh modal hidupnya itu akan kelaparan dan mati.
Namun tidak lama berselang, kebahagiaan yang menyelimuti kota Madinah merambah ke seluruh pedalaman, baik yang dekat dengan Madinah maupun yang jauh. Kebahagiaan memancar di seluruh pelosok dan akhirnya sampai juga kepada 'Uqbah bin 'Amir yang sedang membawa kambing-kambingnya di tengah padang ilalang. Berikut ini, kita akan menyimak penuturan langsung dari 'Uqbah bin 'Amir tentang perjumpaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca Selengkapnya...
|
|
Bilal bin Rabah -Rodhiallu 'anhu- |
|
Written by Redaksi2
|
|
Jum'at, 18 Juli 2008 14:56 |
|
Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda' (putra wanita hitam).
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca Selengkapnya...
|
|
|
|
|
|