|
Al Hafizh Ibnu Daqiq & Berkah Doa Orangtua |
|
Written by Redaksi2
|
|
Kamis, 25 September 2008 20:53 |
|
Ulama yang memiliki nama lengkap Muhammad bin 'Ali bin Wahb bin Muthi' bin Abi Tha'at Al Qusyairi Abul Fath Taqiyyuddin, terlahir dari orangtua yang mulia. Ayahnya adalah seorang ulama pada masanya. Sedangkan sang ibu, merupakan putri dari Syaikh Al Muftarih. Ibnu Daqiq al-'Id lahir bertepatan dengan perjalanan orangtuanya menuju Hijaz Syarif (Mekah). Tepatnya pada hari Sabtu 15 Sya'ban 625 H di dekat daerah pantai Yanbu'.
Sebagaimana kita ketahui, doa orang tua termasuk mustajab. Begitulah Al Hafizd Ibnu Daqiq Al-'Id, ia juga mendapatkan berkah dari doa yang pernah dibisikkan bapaknya saat berkeliling thawaf di samping Ka'bah. Sambil menggendong si kecil Muhammad di tangannya, sang ayah melakukan thawaf. Di sela-sela thawaf itu, bibirnya melantunkan harapan kepada Allah, semoga Dia menjadikan anaknya sebagai orang alim lagi mengamalkan ilmunya. Sang ayah pernah bercerita, bahwa doanya dikabulkan Allah.
Sebagaimana ada orang yang pernah bertanya tentang permohonan yang terdapat dalam doanya, sang ayah menjawab: "Aku berdoa kepada Allah, semoga menumbuhkan Muhammad (anaknya, Ibnu Daqiq al-'Id) sebagai orang yang 'alim lagi mengamalkan ilmunya".
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca Selengkapnya...
|
|
|
Written by Redaksi2
|
|
Sabtu, 19 Juli 2008 09:43 |
|
Muhammad Ibnu Abi Hatim berkata, “Saya terilham/menghafal hadits ketika masih dalam asuhan belajar.” Lalu saya bertanya, “Umur berapakah anda pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang.” (Riwayat al-Farbari dari Muhammad Ibnu Abi Hatim, seorang juru tulis al-Imam al-Bukhari). Suatu ketika al-Imam al-Bukhari tiba di Baghdad. Kehadiran beliau didengar oleh para ahlul hadits negeri itu. Maka, berkumpullah mereka untuk menguji kehebatan hafalan beliau tentang hadits. Syahdan para ulama tersebut sengaja mengumpulkan seratus buah hadits. Susunan, urutan dan letak matan serta sanad seratus hadits tersebut sengaja dibolak-balik. Matan dari sebuah sanad diletakkan untuk sanad lain, sementara suatu sanad dari sebuah matan diletakkan untuk matan lain dan begitulah seterusnya. Seratus buah hadits itu dibagikan kepada sepuluh orang tim penguji, hingga masing-masing mendapat bagian sepuluh buah hadits.
|
|
Baca Selengkapnya...
|
|
Imam Bukhori Dalam Berdagang |
|
Written by Redaksi2
|
|
Sabtu, 19 Juli 2008 09:37 |
Pernah suatu ketika sejumlah barang dibawa kepada Imam Bukhori. Barang itu dikirim oleh Abu Hafsh yang merupakan salah seorang murid istimewa dari ayah beliau. Sekelompok pedagang berkumpul ke tempat beliau dalam rangka mencari ma’isyah. Mereka meminta barang itu dengan memberikan keuntungan kepada beliau sebesar lima ribu dirham. Beliau mengatakan kepada mereka, “Baik, kalian boleh pergi dahulu malam ini.” Keesokan harinya, datanglah sekelompok pedagang yang lain. Mereka meminta barang tersebut dari beliau dengan memberi keuntungan senilai sepuluh ribu dirham.
|
|
Baca Selengkapnya...
|
|
|
|
|
|