|
Kedermawanan Si Faqir, Faidah dari Siroh Sahabat Ulbah bin Zaid |
|
Written by Redaksi2
|
|
Friday, 18 June 2010 15:15 |
 Tersebutlah kisah salah seorang sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, dia adalah Ulbah bin Zaid. Dia bukanlah termasuk sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam yang terkenal sebagaimana Abu Bakar dan Umar. Pada kisah hidupnya kita akan melihat potret kedermawanan si faqir. Bagaimana seorang faqir bisa disebut dermawan ? bukankah biasanya kata dermawan disematkan kepada orang yang cukup hartanya lalu dia bersedekah dan berinfaq dengan hartanya itu ? Simak kisah berikut ini...
Sekitar bulan Sya’ban di tahun 9 H, ketika itu musim paceklik sedang melanda kota Madinah dan sekitarnya, perekonomian kaum muslimin juga sedang sulit-sulitnya, musim panas sedang berada di puncaknya, angin di musim itu juga membawa hawa panas, debu-debu beterbangan mengotori atap-atap dan halaman rumah penduduk kota Madinah. Kulit serasa diiris, mata perih seperti perihnya luka yang diteteskan dengan air cuka. Di musim panas sepert itu biasanya penduduk kota Madinah lebih suka menetap di rumah, atau tinggal di kebun-kebun mereka sambil memetik kurma muda yang memang sedang ranum-ranumnya, karena pohon kurma berbuahnya justru pada musim panas. |
|
Last Updated on Friday, 18 June 2010 15:38 |
|
|
Hanzhalah bin Abi Amir –Radiallahu anhu- |
|
Written by Redaksi2
|
|
Friday, 02 October 2009 11:03 |
 Malam telah menyelimuti kota Madinah Al Munawwarah, bintang -bintang yang bertaburan membawa kedamaian dan ketenangan serta mimpi indah, yang jelas malam itu sebenarnya malam biasa, tapi tidak sama sekali bagi Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu . Hari itu hari dimana mimpinya terwujud, hari yang lama datangnya hari yang lama ditunggunya hari itu Hanzhalah naik ke pelaminan. Hanzhalah menikah pada suatu malam yang besok paginya terjadi perang di Uhud. Hanzhalah minta izin kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam untuk bermalam bersama isterinya. Sementara dia sendiri tidak tahu dengan pasti apakah malam itu malam pertemuan atau justru malam perpisahan. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam memberinya ijin untuk menginap malam itu bersama pasangan kemantennya. Manis macam apakah yang ada pada malam itu ? Rahasia apa yang dipendam hari itu dari Hanzhalah? Bersamaan dengan menyembulnya fajar pertama terdengar gemuruh perang, terdengar seorang menyeru dan mengumumkan jihad. Beberapa saat dia timbang-timbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan Akhirat Akhirnya dia memilih akhirat demi kenikmatannya. Untuk kemudian menyongsong panggilan jihad dan meninggalkan dunia dengan segala isinya. |
|
Last Updated on Friday, 02 October 2009 11:29 |
|
Aku Tidak Peduli, Selama Mati Dalam Keadaan Islam |
|
Written by Redaksi
|
|
Wednesday, 30 September 2009 08:31 |
|
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus 10 mata-mata yang dipimpin Ashim bin Tsabit al-Anshari kakek Ashim bin al-Khaththab. Ketika mereka tiba di daerah Huddah antara Asafan dan Makkah mereka berhenti di sebuah kampung suku Hudhail yang biasa disebut sebagai Bani Luhayan.
Kemudian Bani Luhayan mengirim sekitar 100 orang ahli panah untuk mengejar para mata-mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berhasil menemukan sisa makanan berupa biji kurma yang mereka makan di tempat istirahat itu. Mereka berkata, 'Ini adalah biji kurma Madinah, kita harus mengikuti jejak mereka.' Ashim merasa rombongannya diikuti Bani Luhayan, kemudian mereka berlindung di sebuah kebun. Bani Luhayan berkata, 'Turun dan menyerahlah, kami akan membuat perjanjian dan tidak akan membunuh salah seorang di antara kalian.' Ashim bin Tsabit berkata, 'Aku tidak akan menyerahkan diri pada orang kafir.' Lalu memanjatkan doa, 'Ya Allah, beritakan kondisi kami ini kepada NabiMu shallallahu ‘alaihi wasallam.' Rombongan Bani Luhayan melempari utusan Rasulullah dengan tombak, sehingga Ashim pun terbunuh. Utusan Rasulullah tinggal tiga orang, mereka setuju untuk membuat perjanjian. Mereka itu adalah Hubaib, Zaid bin Dasnah dan seorang lelaki yang kemudian ditombak pula setelah mengikatnya. Laki-laki yang ketiga itu berkata, 'Ini adalah penghianatan pertama. Demi Allah, aku tidak akan berkompromi kepadamu karena aku telah memiliki teladan (sahabat-sahabatku yang terbunuh).' |
|
Last Updated on Friday, 18 June 2010 15:44 |
|
Jabir Ibnu Abdullah Al-Anshari |
|
Written by Redaksi2
|
|
Friday, 05 September 2008 23:21 |
R ombongan kendaraan melaju mempercepat langkah dari Yatsrib ke Mekah karena didorong oleh rasa kerinduan kepada seseorang yang dicintai. Mereka sudah berjanji kepada Rasulullah untuk bertemu. Setiap orang yang berada di rombongan itu sangat rindu dengan suatu waktu pada saat akan merasakan kebahagiaan bertemu dengan Nabi Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wasallam dan meletakkan tangan di atas tangan beliau dengan membaiatnya untuk selalu mendengarkan perintahnya dan taat, serta berjanji untuk saling menguatkan dan menolong. Di antara rombongan itu, ada orang tua, salah seorang pemuka kaum, membonceng anak laki-laki satu-satunya yang masih kecil di belakangnya. Ia meninggalkan sembilan anak perempuan di Yatsrib karena ia tidak memiliki anak laki-laki yang kecil selainnya. Orang tua itu sangat ingin anaknya bisa menyaksikan baiat dan tidak kehilangan hari agung yang dianugerahkan itu. Orang tua itu bernama Abdullah ibnu Amr al-Khazraji al-Anshari. Anaknya bernama Jabir ibnu Abdullah al-Anshari.
Keimanan bersinar di hati Jabir ibnu Abdullah, sedangkan ia masih kecil dan segar. Keimanan pun menyinari setiap sendinya. Islam menyentuh jiwanya yang halus seperti tetesan-tetesan hujan menyentuh kelopak bunga. Tetesan-tetesan itu pun membukanya dan memenuhinya dengan semerbak wangi-wangian. Hubungan Jabir dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjadi kuat sejak mudanya.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia datang berhijrah ke Madinah, anak kecil yang mukmin ini berguru kepada Nabi pembawa petunjuk dan rahmat. Ia pun menjadi sebagian orang utama yang diluluskan oleh pendidikan Muhammad menjadi penghafal Kitab Allah untuk kepentingan manusia dan menjadi periwayat hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.. Cukuplah kita mengetahui bahwa Musnad Jabir ibnu Abdullah terkumpul di antara kedua sisinya sebanyak 1.540 hadits. Dihafallah semua hadits itu oleh seorang murid yang pandai dan meriwayatkannya dari Nabi kaum muslimin yang agung. Imam Bukhari dan Imam Muslim menetapkan dalam dua kitab shahihnya lebih dari 200 hadits dari hadits-haditsnya. Ia menjadi sumber penyiaran dan petunjuk bagi kaum muslimin sepanjang waktu. Allah pun memanjangkan kehidupannya sehingga umurnya sampai satu abad.
|
|
Last Updated on Saturday, 06 September 2008 00:26 |
|
‘Uqbah bin Amir al-Juhani |
|
Written by Redaksi2
|
|
Monday, 28 July 2008 07:53 |
R asulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam baru saja sampai di pinggiran kota Yatsrib setelah sekian lama dinanti-nanti. Kaum lelaki di kota Madinah memadati jalan dengan mengumandangkan tahlil (laa ilaaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar) dengan riang gembira menyambut kedatangan Nabi pembawa kasih sayang dan sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiiq. Sementara itu, kaum wanita dan anak-anak kecil naik ke atap rumah agar dapat melihat langsung sosok Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sambil bertanya-tanya, "Yang mana dia? .. Yang mana dia?" Rombongan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berjalan di tengah para penyambutnya dengan penuh wibawa. Mereka dikelilingi wajah-wajah yang telah lama merindukannya dan hati yang telah sekian lama mendambakannya. Mereka tak kuasa mencucurkan air mata bahagia dan menabur senyum kegembiraan.
Tapi, 'Uqbah bin 'Amir al-Juhani tidak menyaksikan rombongan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan tidak bergabung dengan orang-orang yang menyambut kedatangannya. Ini karena sebelumnya ia sudah pergi menuju daerah pedalaman untuk menggembalakan kambing-kambingnya, karena khawatir seluruh modal hidupnya itu akan kelaparan dan mati.
Namun tidak lama berselang, kebahagiaan yang menyelimuti kota Madinah merambah ke seluruh pedalaman, baik yang dekat dengan Madinah maupun yang jauh. Kebahagiaan memancar di seluruh pelosok dan akhirnya sampai juga kepada 'Uqbah bin 'Amir yang sedang membawa kambing-kambingnya di tengah padang ilalang. Berikut ini, kita akan menyimak penuturan langsung dari 'Uqbah bin 'Amir tentang perjumpaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. |
|
Last Updated on Monday, 28 July 2008 08:18 |
|
|
<< Start <Prev | 1 | 2 | Next> End>>
|
|
Page 1 of 2 |