|
Shafiyyah Binti Huyai Radhiallaahu 'Anha |
|
Written by Redaksi2
|
|
Kamis, 18 Desember 2008 17:25 |
|
Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthan bin Sa'yah cucu dari Al-Lawi bin Nabiyullah Israel bin Ishaq bin Ibrahim 'Alaihi wa Salam, termasuk keturunan Rasulullah Harun 'Alaihi wa Salam. Shafiyyah adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan yang terpandang, berparas cantik dan bagus diennya. Sebelum Islamnya beliau menikah dengan Salam bin Abi Al-Haqiq, kemudian setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Abi Al-Haqiq. Keduanya adalah penyair yahudi. Kinanah terbunuh pada waktu perang Khaibar, maka beliau termasuk wanita yang di tawan bersama wanita-wania lain. Bilal "Muadzin Rasululllah" menggiring Shafiyyah dan putri pamannya. mereka melewati tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyyah diam dan tenang dan tidak kelihatan sedih dan tidak pula meratap mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.
Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam, Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamannya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena merasa belum cukup ratapannya. Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam bersabda (sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau): "Enyahkanlah syetan ini dariku."
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca Selengkapnya...
|
|
|
Yunus Bin Ubaid & Sikapnya Terhadap Hutang |
|
Written by Redaksi2
|
|
Selasa, 02 Desember 2008 12:35 |
|
Tabi'in yang agung ini, Yunus bin Ubaid Rahimahullah tidak memperbolehkan seorang pedagang yang mengambil barang lalu menunda-nunda pembayaran. Beliau menilai bahwa penundaan pembayaran dengan tujuan untuk dikembangkan lagi, padahal sudah jatuh tempo pembayaran dan ia mampu membayarnya adalah sebagai tindakan pencurian. Beliau berkata: "Tidak ada pencuri yang lebih jahat menurutku daripada seseorang yang mendatangi seorang muslim lalu dia membeli dagangannya dan ditangguhkan pembayarannya hingga waktu tertentu, namun tatkala telah datang waktu yang dijanjikan, dia masih ke sana kemari mengembangkan barang tadi untuk meraup untung. Demi Allah tiada dirham yang didapatkan darinya melainkan sesuatu yang haram."
Yunus bin Ubaid tidak hanya melihat dari batasan-batasan dhahir dan bentuk hukumnya saja, namun juga melihat dari sisi tujuan, niat dan tendensi yang ditunjukkan dalam perilaku. Mengapakah dia menunda pembayaran tatkala bermu'amalah dengan seorang muslim padahal dia telah dipercaya untuk menjualkan dagangannya, demi mendapatkan keuntungan dan mendapatkan manfaat darinya hingga waktu yang telah disepakati, lalu tatkala jatuh tempo dia tidak bersegera membayarnya padahal mampu? Lalu dia masih berambisi untuk menambah keuntungan dengan mengembangkan uang yang semestinya dia bayarkan kepada pemilik barang.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca Selengkapnya...
|
|
Hafshoh Binti 'Umar Rodhiyallahu 'anha |
|
Written by Redaksi2
|
|
Rabu, 19 November 2008 18:19 |
|
Beliau adalah Hafsah putri dari Umar bin Khaththab, seorang shahabat agung yang melalui perantara beliaulah Islam memiliki wibawa. Hafshoh adalah seorang wanita yang masih muda dan berparas cantik, bertaqwa dan wanita yang disegani.
Pada mulanya beliau dinikahi salah seorang shahabat yang mulia bernama Khunais bin Khudzafah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy yang pernah berhijrah dua kali, ikut dalam perang Badar dan perang Uhud namun setelah itu beliau wafat di negeri hijrah karena sakit yang beliau alami waktu perang Uhud. Beliau meninggalkan seorang janda yang masih muda dan bertaqwa yakni Hafshoh yang ketika itu masih berumur 18 tahun.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca Selengkapnya...
|
|
Written by Redaksi2
|
|
Kamis, 30 Oktober 2008 14:26 |
|
Inilah kisah seorang tabi’in yang mulia bernama Ar-Rabi’ bin Khaitsam. Beberapa orang ingin memfitnahnya untuk menghalanginya dari mendekatkan diri kepada Allah. Mereka ingin memfitnahnya melalui wanita.
Mereka mendatangi seorang wanita yang sangat cantik. Mereka menjanjikan hadiah sebesar 1000 dirham jika wanita ini berhasil memfitnah Ar-Rabi’ bin Khaitsam... Begitulah, mereka selalu berusaha menggunakan wanita-wanita jalang dan memperalat wanita-wanita ini untuk tujuan bermaksiat kepada Allah.
Wanita itu kemudian menyetujui permintaan mereka... Maka dia memakai pakaian terindah, parfum yang terbaik, dan kemudian menunggu Ar-Rabi’ bin Khaitsam disekitar masjid untuk kemudian menggodanya.
Ar-Rabi’ saat itu sedang menuju masjid, beliau berjalan melangkahkan kakinya kearah Baitullah. Di tengah-tengah perjalanan muncullah wanita tersebut menghadangnya, dengan busana yang mengundang syahwat, serta parfum yang menyengat. Benar-benar sebuah fitnah yang besar!!
Ar-Rabi’ terkejut. Lalu apakah yang dilakukannya didepan fitnah besar ini? Beliau menyadari jika wanita itu sedang lalai, mungkin ada iblis berwujud manusia yang sedang menggerakkannya.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca Selengkapnya...
|
|
Pengasuhan Abu Thalib & Perjalanan ke Syam |
|
Written by Redaksi2
|
|
Rabu, 29 Oktober 2008 11:10 |
|
Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam tinggal dalam pengasuhan kakek beliau Abdul Muthallib sampai usia delapan tahun. Kemudian kakek beliau wafat. Sebelum wafatnya ia memberi wasiat kepada paman beliau Abu Thalib agar mengasuh beliau Shalallahu 'Alaihi wa Salam. Karena sang kakek mengetahui rasa sayang Abu Thalib kepada Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam.
Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam membantu paman beliau di dalam pekerjaannya. Abu Thalib mempunyai pekerjaan berdagang. Beliau menemaninya dalam perjalanan ke negeri Syam. Ketika itu beliau berusia dua belas tahun. Mereka tiba di sebuah tempat yang bernama Bushra, antara Syam dan Hijaz. Keduanya bertemu dengan seorang rahib. Nama rahib itu Buhaira.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca Selengkapnya...
|
|
|
«Start Prev  1 2 3 4 5 Next End»
|
|
Page 1 of 5 |